Nusantara Infrastructure Siapkan Rp 800 Miliar Bangun Tol Layang JORR

JAKARTA – PT Nusantara Infrastructure Tbk akan fokus pada proyek besar Tol Layang Jakarta Outer Ring Road (JORR) Ruas Cikunir-Ulujami pada Tahun 2021.

Megaproyek infrastruktur konektivitas ini diproyeksikan menelan dana investasi senilai 21,57 triliun.

Direktur Utama PT Nusantara Infrastructure Tbk Ramdani Basri memastikan hal itu kepada Kompas.com, saat konferensi virtual, Rabu (23/12/2020).

“Bisnis infrastruktur konektivitas khususnya jalan tol merupakan arena permainan yang sangat menarik, karena banyak segmen yang belum terkoneksi. Padahal kunci bisnis jalan tol adalah konektivitas,” terang Ramdani.

Dia melanjutkan, Perseroan akan berupaya menyambungkan satu ruas (tempat) dengan ruas lainnya dalam portofolio Perusahaan.

Konektivitas ini merupakan kesempatan bagi PT Nusantara Infrastructure Tbk yang merupakan satu di antara segelintir perusahaan swasta yang bermain di jalan tol.

Oleh karena itu, belanja modal atau capital expenditure (capex) Perseroan tahun 2021 akan dikonsentrasikan untuk merealisasikan proyek jalan bebas hambatan ini dengan nilai Rp 800 miliar.

“Angka sebesar ini merupakan bagian dari total capex Rp 1,5 triliun-Rp 2 triliun yang disiapkan untuk tahun 2021 dan akan dibelanjakan secara bertahap,” imbuh Direktur PT Nusantara Infrastructure Tbk Danni Hasan.

Saat ini, kata Dani, Tol Layang JORR Ruas Cikunir-Ulujami yang dirancang sepanjang 22 kilometer tengah memasuki tahap perizinan lelang.

“Semoga kami bisa memenangi lelang ini,” kata Dani.

Untuk diketahui, Tol Layang JORR Ruas Cikunir-Ulujami diprakarsai oleh PT Nusantara Infrastructure Tbk bersama PT Triputra Utama Selaras (TUS), PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) dan PT Acset Indonusa Tbk. (ACST).

Guna merealisasikan tol ini, mereka sepakat membentuk perusahaan konsorsium bernama Jakarta Metro Expressway (JMEX).

Dalam rancangan kerjanya, Tol Layang JORR menghubungkan Ulujami-Pondok Indah-TMII-Jati Asih.

Kinerja keuangan

Sementara, hingga September 2020 Perseroan mencatatkan pendapatan dan penjualan operasional sebesar Rp 373.4 miliar.

Kontribusi terbesar bersumber dari sektor jalan tol Rp 236.3 miliar atau setara dengan 63.3 persen total pendapatan dan penjualan usaha.

Sementara sektor energi terbarukan dan pengelolaan air bersih masing-masing berkontribusi sebesar Rp 87.9 miliar (23.6 persen) dan Rp 49.2 miliar (13.1 persen).

Sedangkan laba bersih terbukukan senilai Rp 82,4 miliar, atau lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 181.3 miliar.

Adapun total aset Perseroan mengalami peningkatan sebesar Rp 803.3 miliar atau setara dengan 15,8 persen seiring dengan penambahan aset konsesi dan juga aset tetap.

Khusus di sektor jalan tol, Perseroan melalui unit bisnis PT Makassar Metro Network (MMN) telah menyelesaikan pembangunan Jalan Tol Layang AP Pettarani (Ujung Pandang Seksi 3).

Jalan bebas hambatan ini dirancang sepanjang 4,3 kilometer tanpa adanya pembebasan lahan dengan nilai investasi sebesar Rp 2,2 triliun.

Keberadaan Jalan tol layang ini juga akan mendukung sistem perekonomian dan mobilitas di daerah tersebut, sekaligus sebagai fasilitas pendukung kemajuan Kota Makassar dan daerah sekitarnya.

Perseroan juga telah memperkuat struktur dan permodalan di sektor jalan tol dengan masuknya konsorsium dari tiga Perusahaan Jepang yakni Japan Expressway International Co. Ltd. (JEXWAY), Japan Overseas Infrastructure Co. Ltd. (JOIN) dan West Nippon Expressway Co. Ltd. (NEXCO) sebagai salah satu pemegang saham PT Margautama Nusantara (MUN) sebesar 10.32 persen.

Di sektor energi terbarukan, Perseroan melalui unit bisnis PT Inpola Meka Energi (IME) telah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Lau Gunung secara komersial pada 17 Desember 2020.

PLTA dengan kapasitas 15 megawatt yang berlokasi di Desa Lau Gunung, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, ini siap melayani sekitar 10.000 pelanggan di Kabupaten Dairi dan Karo melalui jaringan listrik PLN.

Dari kedua portofolio ini Perseroan membidik pendapatan usaha senilai Rp 253 miliar. Masing-masing Rp 186 miliar atau tumbuh 200 persen dari sebelumnya Rp 61 miliar untuk Tol Layang AP Pettarani, dan Rp 67 miliar dari PLTA Mau Gunung dari sebelumnya Rp 9 miliar.

Sementara untuk sektor pengelolaan air bersih, Perseroan secara aktif berpartisipasi dalam penyelenggaraan proyek-proyek yang diadakan oleh Pemerintah/Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), baik dalam skema business-to-business maupun Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) untuk melayani kebutuhan air beberapa daerah di Indonesia. [Source:Kompas]

Komentar Dinonaktifkan